Minggu, 20 November 2011

maksa..hahaha


Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku,
Dekatkanlah…
Tapi kalau bukan jodohku,
Jodohkanlah…
Jika dia tidak berjodoh denganku,
Maka jadikanlah kami jodoh…
Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapat jodoh yang lain,
selain aku.
Kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku,
Jangan sampai dia dapat jodoh yang lain,
Biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku.
Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh,
Jodohkanlah kami kembali.
Kalau dia jodoh orang lain,
Putuskanlah! Jodohkanlah dengan ku.
Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain,
Biar orang itu ketemu jodoh dengan yang lain,
Dan kemudian Jodohkan kembali dia dengan ku.
“Amin…”


Read mo

tujuan hidup

pepatah bijak :orang bodoh hidup untuk makan....namun orang bijak makan untuk hidup....

tujuan hidup itu ada jangka panjang dan jangka pendek..
jangka panjang tujuan hidup ne adalah masuk surga pastinya...hehehe

tujuan pendeknya alias semua kegiatan ne lakukan untuk jadi lebih baik dan lebih baik lagi....kalo kata amak seh,,bebanah diri toh ndok.... :)

tapi, dalam prakteknya mencapai tujuan hidup ini berat bangeet yaah....

setiap detik saya dihadapkan dengan pilihan" yang membingungkan?? bahkan konsep baik dan benar itupun kadang bisa tergoyahkan.....???

waah berat yah hidup itu...

nah... itu yang namanya hidup... hidup memang berat bro....dimana mana untuk mencapai sesuatu yang indah memang berat,, kalau biasa" aj...yaah dapet nya juga biasa" aj...


yang  penting jalani dengan maksimal (harus ikhlas...loh...) semua pasti indah...

no body perfect....menurut saya g' juga tuh.... kalau kita bersyukur semua terasa sangaaaat perfect walau menurut orang lain itu g' perfect.. toh yang ngejalani hidup kan kita?? 
so.....
semangatttttttttttttttttttttttttttt

Kamis, 17 November 2011

semangat disisi

waaaw...
rasanya qu temukan kembali dunia ku yang tlah lama hilang..........
trimakasih semua....kalian sangat berharga dihati dan di hari....

sungguh ini semua suatu anugrah terbesar,, suatu spirit yang kuat yang membangkitkan ku dari keterpurukan....

aq kembali menjadi aku.........
trimakasih Tuhan......

semoga ini awal yang baik..untuk bangkit... :)

Minggu, 13 November 2011

Cinta Tak Sampai


setiap hari,setiap jam&setiap detik
kemanapun ku melangkah kuingat kmu
bayangmu slalu dlam benakku
slalu&slalu muncul di lamun ku
ingin ku lepas,
tapi ku tak sanggup
ingin ku memilikimu,
tpi ku tak mampu
berulang kali ku bangun
berulangkali pula ku jatuh
ku taktahu mungkin ini semua salah q
yg slalu mlanggar janji qw
q tak tahu apa smuaitu kesempatan
autu hanya angin surga dari bibir manismu
yg slalu berhasil menyentuh hati kecil ku
dan yg membuka harapan besar ku
pikiranmu sangat sulit tuk ku tebak
dan bibir manismu yang slalu menghanyutkanku
tak jarang angin surga yg kau beri
tak jarang pula ku mengharapkannya
mungkinkah ini semua salahku
yang slalu mengharapkan mu
yang slalu menunggu cintamu
meski ku tau ku takkan pernah dapatkan mu
ingin jalan berdua sengan mu
ingin ku kluarkan seluruh isi hati ku
untuk yg kesekian kalinya
dan mungkin tuk yang terakhir kalinya
jikalau kau masih menolak ku
mau takmau ku harus siap
tak akan ku ganggu hidupmu agi
& kan slalu ku usahakan melupakanmu
meski ku tau itu teramat sulit
By : Ss raharjo


Malam Minggu Oii....


Malam Minggu kelabu..
Malam minggu semu..
Oh.. Malam Minggu..
Apa pentingmu, apa pentingmu..
Aku bahkan tak mengerti bagaimanakamu..
Spesialmu..
Keunikanmu..
keberadaanmu..
dan tentang kamu yang datang malam ini..
Andai ada pangeran tampan yang menjemputku..
berjalan berdua..
menikmati malam ramainya lampu di pinggir kota..






Oh.. malam minggu… Indah anganku..
Malam Minggu kelabu..
rangkaian kata yang tak biasa bagiku..
hanya sepi yang bertandang mengetuk hatiku…
hanya sendiri yang selalu menggedor pintu jiwaku..
malam Mingguku.. kelabu bak malam tanpa rembulan semu..
aku yang duduk sendiri, malam minggu ini kunikmati..






Aku Perempuan


aku perempuan....
aku punya rasa,,
aku punya gengsi..
aku punya ego...


aku perempuan....
aku punya rasa...
tetapi aku punya gengsi,
untuk menyatakan pada lelaki..


aku perempuan...
aku punya rasa...
tetapi aku punya ego,
terhadap lelaki...


mengertilah bahwa aq tercipta seperti ini,,
dan inilah aq..


siapa yang harus ku salahkan??
tidak mungkin Tuhan, bukan???????

ibu guru??
aku  kesulitan..
pelajaran ini paling sulit ku pelajari....
walau ku hitung dengan rumus matematika,,
walau beribu percobaan sains ku lakukan,,
begitupun biologi bergerak pada seluruh sel-sel qu...
tapi,, tetap saja qu tak bisa MENGEJA...
kata..... c-i-n-t-a



Jumat, 11 November 2011

Jiwa yang Menolak Patah


Mengapa ada orang yang mampu terus berjalan meski cobaan menghantamnya bertubi-tubi? Namun kenapa juga yang lainnya justru patah, meski nampaknya ujian dan derita yang is terima relatif lebih ringan? Ada banyak sebab tentu. Tapi salah satunya adalah, karena orang-orang yang mampu melangkah terus, yang tidak mundur dan tidak berhenti, adalah orang-orang yang "kreatif". Jiwa-jiwa mereka kreatif menemukan celah dan terobosan untuk menjaga diri agar tidak patah, agar tidak berhenti. Tentu, di dalamnya ada sebentuk cinta dari Allah swt, sehingga mereka menemukan kunci-kunci untuk tidak berhenti karena cobaan dan nestapa apa pun. Dan, kunci penyangga itu ternyata ada di mana-mana.

Ia Tidak Berhenti, Karena Cinta Ternyata di Sekelilingnya

Laki-laki itu pejabat tinggi suatu perusahaan swasta, berusia 40-an, belum menikah.
Beberapa tahun lalu, ia menuturkan kisah hidupnya yang paling rahasia dalam sebuah harian nasional, demi berbagi dengan seorang yang tertimpa pengalaman buruk mirip yang pernah ia alami. Laki-laki itu membaca dalam rubrik konsultasi, tentang anak muda yang merasa dirinya kotor dan hidupnya berakhir, karena menjadi korban pelecehan seksual temannya sendiri.

Ternyata, laki-laki 40-an tahun itu, semasa SD, pernah diperlakukan sama. Saat itu ia tengah berwisata di pantai bersama guru dan teman-teman sekolahnya. Tiba-tiba ia dipanggil beberapa kakak kelas. Ia menduga akan diajak bermain bersama. Ternyata, di tempat yang jauh dari keramaian, ia mengalami pelecehan seksual, di bawah todongan pisau. Ia sangat terpukul, hingga menangis terus dan mengubur diri di dalam pasir. Sampai sore datang, dan guru serta teman-teman lain yang mencarinya, menemukannya masih di dalam pasir, gemetar.

Bertahun-tahun ia mencoba melupakan peristiwa tragis itu. Ada masa di mana ia merasa sangat membenci para pelaku, yang masih kanak-kanak itu. Ada masa ia merasa tidak sanggup melihat orang lain. Namun pada akhirnya ia mencoba sesuatu yang amat sulit, memaafkan. Satu kata yang terus ia ucapkan hingga dewasa, "maafkan, maafkan." Ia menduga, mereka pun punya masa lalu yang kelam, boleh jadi mereka sebelumnya pernah pula menjadi korban.

Ternyata itulah yang menjadi titik balik ia membuka hatinya untuk melihat sisi lain dunianya. Sebelum "terbangun", ia tidak mampu membuka dirinya untuk orang-orang terdekat, untuk orang tuanya, untuk adik dan kakaknya yang kesemuanya sudah menikah. Hingga dewasa, ia amat penuh dengan laranya sendiri, dan kehilangan waktu untuk peduli pada lingkungannya. Ia tenggelam dalam dunia kerja, menghasilkan uang berlimpah, yang tak kunjung membuatnya "sembuh".

Kemudian, sewaktu ia memberi perhatian dan kasih sayang pada keluarganya, terutama pada para keponakannya, ia menemukan mutiara cinta ternyata ada di mana-mana. Kini, setiap ia datang ke rumah saudara-saudaranya, anak-anak mereka menyambutnya dengan kegembiraan yang polos. Di sanalah, ia merasa bisa berlabuh, menemukan kebahagiaannya, menemukan kesembuhannya. Malah, oleh keluarganya, ia dijadikan "kepala" keluarga, termasuk oleh ayah ibunya. Ternyata, mereka telah lama memendam cinta untuknya. Laki-laki itu pun tidak kalah, jiwanya menolak untuk patah, karena cinta ternyata ada di sekelilingnya.

Ia tidak Berhenti, Karena Memilih Tegak Meski Tertatih-tatih

Betapa kerasnya kehidupan di ibukota. Ini tidak dipungkiri siapa pun. Namun, di Jakarta pula, kita bisa menemukan manusia-manusia yang mampu tegak, meski hidupnya diselang-selingi "kejutan" yang tak nyaman. Di halte pasar di bilangan Tebet Timur, Jakarta Selatan, misalnya. Sepasang suami istri sejak belasan tahun berdiam di kios rokok dan minuman dingin yang sekaligus dijadikan tempat tinggalnya.

Modal yang seadanya, masih harus menanggung hutang para awak bus yang kerap mangkal di sana. Mereka pun masih harus membayar berbagai pungutan demi keamanan. Termasuk ke pejabat lokal, demi perijinan. Semua itu, bahkan sudah dijalani sang istri sejak ibunya masih hidup. Ia dibawa ibunya merantau ke Jakarta sejak kanak-kanak. Dan, kios itu adalah warisan ibunya, sebelum wafat. "Jenazah si Mbok kami bawa ke desa, di sana kan ada kuburan desa. Biaya merawatnya lebih murah. Kalau di sini mahal, nggak sanggup bayar," tuturnya.

Siang itu, percakapan rutin terdengar di halte. "Kapan utangnya dibayar? Udah banyak nih, udah 30 ribu," tutur sang istri pada seorang supir, yang tengah memarkir busnya di depan halte. Sang awak nampak terkejut, seolah tak percaya. "Masak sebanyak itu?" Perempuan itu melanjutkan, "Ini ada catatannya." Suaminya, yang tengah beristirahat di dalam kios, terbangun dan membenarkan istrinya. "Yah, nanti dibayar," itulah akhirnya jawaban sang awak bus. "Kalau begini terus, modalnya bisa habis," ujar perempuan itu perlahan.

Meski sehari-hari harus hidup amat prihatin, namun seperti diakui perempuan itu, ia merasa masih mampu bertahan. "Memang pemasukan sedikit sekali, kami sering terpaksa makan apa adanya, tapi kami masih bisa bertahan. Di kota besar kayak Jakarta, itu sudah bagus kok," ujar sang istri.

Demikianlah. Meski tersendat-sendat, mereka sudah memilih.

Ia Tidak Berhenti, Karena Harus Menjadi Pelita Lingkungan

Boleh jadi, pilihan untuk tidak berhenti, didesak pula oleh lingkungan. Namun, tidak semua orang menyambut desakan ini. Waras Soebroto, penduduk desa Kedung Rejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, adalah orang yang mengambil desakan ini. Hasilnya, ia melangkah terus, dan memberi arti positif buat lingkungannya.

Waras sudah bekerja selama belasan tahun sebagai petugas pengawas hutan lindung. Setiap bulan, ia hanya dibayar 3000 (tiga ribu) rupiah. Ia amat prihatin dengan kondisi suaka alam di Banyuwangi, yang dijarah para penebang liar. Inilah awal mulanya Waras merasa harus melakukan sesuatu: total melindungi suaka alam dengan segala kemampuannya, dengan semua waktu yang ia punya. Termasuk "memerangi" penebangan liar. Resikonya, ia sering menghadapi ancaman dari penebang liar dan pencuri kayu, bahkan kerap diisukan akan diguna-guna.

Meski begitu, Waras tidak mundur. Ia merasa tidak boleh mundur, karena lingkungannya akan tambah hancur jika ia memilih jalan itu. Secara kontinyu Waras malah mencoba meyakinkan masyarakat, tentang pentingnya menjaga suaka alam. Ia terus membangun kesadaran kolektif. Tidak tanggung-tanggung, Waras akhirnya berhasil mengamankan 6 lokasi suaka alam di daerah Banyuwangi.

Pilihan serupa diambil pula La Ode Muhammad. Ia hanyalah satu dari banyak penduduk Desa Wantimoro, Kecamatan Kabawo, Muna, Sulawesi Tenggara. Mulanya, La Ode bersama warga Suku Bajo di kampung Wantimoro tinggal di laut, di atas perahu bido. Suku Bajo memang menjadikan laut sebagai sumber pencaharian, bahkan sebagai tempat berkelana. Namun, kehidupan mereka lama-kelamaan terjepit, akibat potensi ikan makin merosot.

Dalam situasi ini, kekhawatiran soal masa depan menghinggapi mereka. Hingga La Ode tersadar, ia mesti melakukan sesuatu. Lantas, ia mengajak suku Bajo untuk menetap di darat dan bertani dengan pola sanitasi. Mereka berhasil. Ratusan kepala keluarga telah mengubah pola hidupnya, dan mereka mampu bertahan, bahkan tingkat ekonominya terus membaik. Warga menganggap La Ode Muhammad sebagai pelita lingkungannya. Bagi La Ode dan Waras, mereka tidak kalah justru karena lingkungannya.

Ia Tidak Berhenti, Karena Ia Punya Mimpi

Namanya Az Zamakhsyari. Ia seorang ulama terkenal, ahli dalam banyak ilmu pengetahuan agama. Namun, ia lebih terkenal sebagai tokoh ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab). Menjadi ahli dalam ilmu bahasa bagi Az Zamakhsyari adalah keberhasilan yang boleh dibilang sebagai prestasi dan kesuksesan luar biasa dalam menghadapi rintangan. Betapa tidak, sejak kecil ia telah mempelajari ilmu nahwu, tetapi hingga menginjak remaja ia tak kunjung paham dengan ilmu yang dipelajarinya.

Bayangkan, selama bertahun-tahun belajar untuk membedakan antara subyek (mubtada) dan obyek (khabar) saja ia tidak bisa. Sementara teman-temannya, hampir semuanya telah mengusai ilmu itu. Bahkan ada di antara mereka yang diberi tugas untuk mengajar adik-adik kelas mereka.

Kenyataan ini nyaris membuat Az Zamakhsyari putus asa. Ia merasa malu dengan usianya yang semakin tua tetapi belum tahu apa-apa, apalagi ia harus duduk dan belajar bersama anak-anak yang jauh di bawah usianya. Di tengah kegalauannya ia berniat meninggalkan sekolah, pergi merantau untuk mencari ilmu di tempat lain.

Setelah cukup jauh berjalan, ia mampir berteduh di sebuah rumah. Ketika sedang beristirahat sambil menyandarkan punggungnya di tembok, ia melihat seekor semut kecil sedang menggigit sisa kulit korma. Semut itu berusaha menarik kulit korma yang ukurannya lima kali lipat lebih besar dari tubuhnya, ke lubang di tembok itu. Berkalikali ia melakukannya namun selalu gagal, kulit korma selalu jatuh ke tanah. Az Zamakhsyari terpaku melihat kelakuan semut itu, yang mempunyai keuletan mengagumkan.
Setelah berkali-kali gagal, ternyata sang semut berhasil membawa naik kulit korma itu. Saat itu muncullah pemikiran dalam benak Az Zamakhsyari, "Seandainya aku melakukan seperti yang dilakukan semut ini niscaya aku juga akan berhasil." Setelah mengucapkan itu, ia memutuskan kembali ke sekolahnya dan membatalkan niatnya untuk merantau. Hasilnya, Az Zamakhsyari benar-benar meraih impiannya. Ia menguasai ilmunya sedemikian rupa. Bahkan, ia menjadi tokoh nahwu yang sangat disegani.

Mimpi dan cita-cita, yang di dalamnya termaktub tekad, semangat dan kerja, memang seringkali membuat orang tidak mau berhenti. Bahkan, seekor semut pun, menghayati semangat ini. Apatah lagi, kita, manusia.

Ia Tidak Berhenti, Karena Batinnya Kaya

Seorang perempuan kurus berkulit gelap tampak duduk di depan "rumahnya" di sebuah pojok Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan. Dari cangkir plastik yang tak lagi bersih, ia menikmati betul seruputan demi seruputan kopi hangat. "Rumah" perempuan itu hanya susunan papan berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang berasal dari kotak kayu yang biasa ditemukan di pasar, ada pula yang memanjang. Bagian yang menjadi atap rumah ditutupi selembar terpal warna biru untuk menghalangi kucuran air saat hujan datang. Antara atap dan lantai hanya ada jarak satu meter. Karenanya, setiap kali keluar masuk "rumahnya" perempuan itu harus membungkuk-bungkuk.

Di ambang pintu yang rendah, sebuah papan penggilasan pakaian dipasang sebagai jembatan. Di bawahnya, selokan kecil meliuk mengalirkan air berwarna hitam kehijauan. Dalam keterbatasan ruang di halaman yang lebarnya hanya setengah meter, ia tampak berusaha mempercantiknya dengan lima pot tanaman yang terbuat dari bekas wadah cat tembok. Kelimanya diatur berjajar memanjang. Jadilah gerbang. Sayangnya, daun-daun tanaman dalam pot itu nyaris habis dipatuki ayam peliharaannya yang tak banyak jumlahnya.

Maryati, nama perempuan itu. Wajahnya sudah berkerut-kerut meski usianya belum genap 40 tahun. "Saya sudah 25 tahun tinggal di sini," katanya sambil menyebut usianya sendiri, 37 tahun. Ia tinggal bersama suaminya. Karena sempit, Maryati hampir setiap malam tidur di luar rumah. Beralaskan karung dan selembar kain. Kadang tidur di "halaman" dan kadang tidur di atas tumpukan rangka besi besar di samping "rumah".
"Syukurlah ada besi-besi itu. Kalau air sungai meluap ya cukup terlindungilah, enggak hanyut," kata Maryati. Meski harus tinggal di "rumah" sempit di lokasi yang tak sewajarnya, dalam setiap pembicaraannya Maryati selalu mengucap syukur. "Alhamdulillah, saya masih punya rumah. Kalau enggak di sini, mau di mana lagi? Di kampung saya di Indramayu saja masih tinggal di rumah saudara," katanya. "Maklumlah, orang kecil," lanjutnya.

Untuk hidup sehari-hari, Maryati berjualan sayur di dekat terowongan Manggarai. Setiap bulan ia mengirim sedikit uang untuk dua anaknya di kampung. Sekali dalam dua hari, Maryati biasa pergi ke Pasar Induk Kramat Jati atau Pasar Minggu. "Beli cabai, tomat, sayur juga," katanya. Namanya berjualan, risiko rugi sudah sangat dia pahami tanpa mengeluh. "Nggak apa-apa kalau rugi, udah risiko," begitu ia menyebut.

Penghasilannya yang minim masih harus dikurangi untuk biaya hidup rutin yang tak bisa dia hindari, misalnya untuk mandi, mencuci, dan buang hajat di WC umum. "Kami mandi bayar di kamar mandi umum, air juga harus beli," ujar Maryati, yang lagi-lagi mengucapkan syukur sewaktu menceritakan ada penghasilan tambahan selain berjualan sayur.

Meski hidup serba prihatin dan mesti menghadapi berbagai situasi yang tidak nyaman, Maryati tak goyah. Ia tetap tinggal di gubuk kecilnya. Tetap berjalan terus mencari nafkah, bahkan tetap berbagi rejeki dengan keluarganya di desa. Keyakinannya, kalau memelihara waktu-waktu shalat ia akan selalu aman. "Kalau kita shalat lima waktu, pasti aman deh," katanya sambil tersenyum.

Melihat Maryati, kita serasa melihat potret kekayaan batin. Ini adalah kekayaan hakiki, yang membuat manusia tidak patah, tidak kalah. Sampai kapan pun. Wallahu’alam

sumber : http://beranda.blogsome.com/2009/01/13/jiwa-yang-menolak-patah/